Selamat Datang......

di www.geografi.web.id
website geografi ,
edukasi & informasi...

YM01:
Status YM YM02: Status YM
email: geografiesta@gmail.com

Anda Pengunjung ke
Counter Powered by  RedCounter
Saat ini Pengunjung Online





Thx to: Jurusan Pendidikan Geografi
Fakultas Ilmu Sosial Ekonomi
Universitas Negeri Yogyakarta
FISE - UNY .. copyright 2010

KLASIFIKASI PUSAT PERBELANJAAN

Diposting oleh admin Selasa, Desember 30, 2008

KLASIFIKASI PUSAT PERBELANJAAN
• Dilihat dari luas areal pelayanan berdasarkan U.L.I. standar
(shopping centers planning, developmen and adminitration, Edgar Lion P.Eng)
1. Regional Shopping Centers
Luas area 27.870m2-92.900m2. terdiri dari dua atau lebih bangunan dengan ukuran yang sama departement store, skala pelayanan antara 150.000-400.000 penduduk. Terletak pada lokasi yang strategis, tergabung dengan perkantoran, pusat rekreasi dan pusat budaya.

2. Comunity Shopping Centers
Luas area antara 9.290m2-23.225m2. terdiri dari junior departement store, supermarket. Dengan jangkauan pelayanan 40.000-150.000 penduduk. Terletak pada lokasi mendekati pusat-pusat kota.
3. Neigbourhood Shopping Centers
Luas area antara 2.720m2-9.290m2. jangkauan pelayanan antara 5.000-40.000 penduduk. Unit terbesar berbentuk supermarket. Berada dalam suatu lingkungan tertentu.

• Dilihat dari jenis barang yang dijual

1. Menurut Nadine Beddington (design for shopping centers)
2. Demand (permintaan) yaitu yang menjual kebutuhan sehari-hari yang juga merupakan barang kebutuhan pokok.
3. Semi Demand (setengah permintaan) yaitu yang menjual barang-barang untuk kebutuhan tertentu dalam kehidupan sehari-hari.
4. Impuls (barang yang menarik) yaitu yang menjual barang-barang mewah yang menggerakkan hati konsumen pada waktu tertentu untuk membelinya.
5. Drugery yaitu yang menjual barang-barang higienis seperti sabun, parfum dan lainnya.

• Dilihat dari sistem sirkulasi pusat perbelanjaan
1. Sistem banyak koridor, terdapat banyak koridor tanpa banyak orientasi. Sehingga semua tempat dianggap sama yang strategis hanya dibagian depan saja yang dekat dengan enterance saja. Efektifitas pemakaian ruang sangat tinggi. Dapat ditemui pada pertokoan yang dibangun sekitar tanun 1960-an.
2. Sistem plaza, terdapat ruang berskala besar yang menjadi pusat orientasi kegiatan dalam ruang. Masih menggunakan pola koridor untuk efisiensi ruang. Tetapi mulai terdapat hierarki dan lokasi masing-masing toko strategis yang berada didekat plasa tersebut, dan mulai mengenal vide dan mezanin (loteng tengah)
3. Sistem mall, dikonsentrasikan pada sebuah jalur utama yang menghadap dua atau lebih magnet pertokoan dapat menjadi poros massa, dan dalam ukuran besar dapat menjadi sebuah atrium. Jalur tersebut akan menjadi sirkulasi utama karena menghubungkan dua titik utama.

• Menurut standar perencanaan DKI Jakarta
Pusat perbelanjaan di Jakarta dapat diklasifikasikan sebagai berikut :
1. Pusat perbelanjaan lingkungan, jangkauan pelayanan meliputi 3.000-2.000 penduduk. Pada umumnya barang yang diperdagangkan adalah barang primer (kebutuhan sehari-hari). Radius pelayanan 15 menit dengan berjalan kaki, lokasi berada dilingkungan pemukiman.
2. Pusat perbelanjaan wilayah, jangkauan pelayanan meliputi 30.000-200.000 penduduk. Jenis barang yang diperdagangkan adalah barang sekunder (kebutuhan berkala), radius pelayanan wilayah atau kecamatan. Lokasi berada di pusat wilayah, ditempuh dengan 500 meter berjalan kaki
3. Pusat perbelanjaan kota, jangkauan pelayanan meliputi 200.000-1.000.000 penduduk. Jenis barang yang diperdagangkan lengkap dan tersedia fasilitas pendukung lainnya seperti toko, bioskop, bank atau ATM, rekreasi dan lainnya. Lokasi strategis dapat digabungkan dengan perkantoran. Pencapaian maksimal 25 menit dengan kendaraan.

<<< PENGARUH INDUSTRI PUSAT PERBELANJAAN >>>

<<< TERHADAP BERBAGAI ASPEK ( 2 )>>>



publised by: www.geografiesta.co.cc




Related Post