
Candi Prambanan terletak 16 Km kearah timur dari kota Yogyakarta, sebelah selatan Candi Sewu, atau berada di sisi utara jalan Yogya-Solo tepatnya berada di desa Karangasem kecamatan Bokoharjo kabupaten Sleman Yogyakarta, secara administratif candi Prambanan terletak diperbatasan antara kabupaten Sleman (Yogyakarta)dan kabupaten Klaten (Jawa Tengah).
Candi Prambanan,dibagian tengahnya terdapat Candi Lara Jonggrang, diduga dibangun oleh King Daksha, Shivaist Dynasty (Dinasti Syiwa) dari Mataram kuno sekitar tahun 915. Bagian yang penting adalah teras segi empat bertingkat keatas dan dilindungi dinding batu. Didalamnya berdiri 8 candi dengan tinggi bertingkat. Lara Jonggrang adalah yang terbesar dan didedikasikan untuk Dewa Syiwa, disebelah selatannya berdiri Candi Brahma dan sebelah utaranya Candi Wisnu. . Berdasarkan Prasasti Siwagrha yang berangka tahun 856 M, nama asli Candi Prambanan adalah Siwa Grha, adapun nama Candi Prambanan diambil dari nama tempat Candi berada.
Ada juga pendapat bahwa berdasarkan Prasasti Ciwagrha dan Wanua Tengah III, Candi Prambanan dibangun abad 9, atas perintah Rakai Panangkaran, Raja Mataram Kuno.
Candi Prambanan adalah candi Hindu terbesar di Jawa Tengah dengan ketinggian sekitar 47 m, namun seperti halnya dengan candi-candi yang lain, Candi Prambanan ditemukan kembali dalam keadaan runtuh dan hancur serta ditumbuhi semak belukar. Hal ini karena telah ditinggalkan manusia pendukungnya beratus-ratus tahun silam. Secara administratif kompleks candi ini berada di perbatasan Jawa Tengah dan Daerah Istimewa Yogyakarta.
Masyarakat sering menyebut candi ini dengan nama candi Larajonggrang, suatu sebutan yang sebenarnya keliru karena seharusnya Rara Jonggrang.Kata rara dalam bahasa Jawa untuk menyebut anak gadis. Dalam cerita rakyat Rara Jonggrang dikenal sebagai putri Prabhu Ratubaka yang namanya diabadikan sebagai nama peninggalan kompleks bangunan di perbukitan Saragedug sebelah selatan Candi Prambanan. Dikisahkan dalam cerita tersebut ada seorang raksasa Bandung Bandawasa namanya. Ia mempunyai kekuatan supranatural dan ingin mempersunting putri Rara Jonggrang. Untuk itu dia harus membuat candi dengan seribu arca didalamnya dalam waktu satu malam. Permintaan tersebut dipenuhi oleh Bandung Bandawasa, namun Rara Jonggrang curang sehingga pada saat yang ditentukan candi itu belum selesai, kurang sebuah arca lagi. Bandung Bandawasa marah dan mengutuk putri Rara Jonggrang menjadi pelengkap arca yang keseribu. Arca tersebut dipercayai sebagai arca Durgamahisasuramardhini yang berada di bilik utara Candi Siwa. Yang jelas Durgamahisasuramardhini adalah istri Dewa Siwa.

Candi Prambanan dikenal kembali saat seorang Belanda bernama C.A.Lons mengunjungi Jawa pada tahun 1733 dan melaporkan tentang adanya reruntuhan candi yang ditumbuhi semak belukar. Usaha pertama kali untuk menyelamatkan Candi Prambanan dilakukan oleh Ijzerman pada tahun 1885 dengan membersihkan bilik-bilik candi dari reruntuhan batu. Pada tahun 1902 baru dimulai pekerjaan pembinaan yang dipimpin oleh Van Erp untuk candi Siwa, candi Wisnu dan candi Brahma. Perhatian terhadap candi Prambanan terus berkembang. Pada tahun 1933 berhasil disusun percobaan Candi Brahma dan Wisnu. Setelah mengalami berbagai hambatan, pada tanggal 23 Desember 1953 candi Siwa selesai dipugar. Candi Brahma mulai dipugar tahun 1978 dan diresmikan 1987. Candi Wisnu mulai dipugar tahun 1982 dan selesai tahun 1991. Kegiatan pemugaran berikutnya dilakukan terhadap 3 buah candi perwara yang berada di depan candi Siwa, Wisnu dan Brahma besarta 4 candi kelir dan 4 candi disudut / patok.
Kompleks Candi Prambanan mempunyai 3 halaman, yaitu halaman pertama berdenah bujur sangkar, merupakan halaman paling suci karena halaman tersebut terdapat 3 candi utama (Siwa, Wisnu, Brahma), 3 candi perwara, 2 candi apit, 4 candi kelir, 4 candi sudut/patok. Halaman kedua juga berdenah bujur sangkar, letaknya lebih rendah dari halaman pertama. Pada halaman ini terdapat 224 buah candi perwara yang disusun atas 4 deret dengan perbandingan jumlah 68, 60, 52, dan 44 candi. Susunan demikian membentuk susunan yang konsentris menuju halaman pusat.
Candi Siwa sebagai Candi Induk mempunyai bentuk yang paling besar dan tinggi di antara candi-candi lainnya. Candi Siwa berukuran 34 x 34 meter dengan tinggi 47 meter. Pintu masuk utama Candi Siwa menghadap ke timur dan mempunyai 4 (empat) buah bilik di keempat sisinya. Pada bilik pusat (sisi timur) terdapat arca Siwa Mahadewa sebagai arca utama, pada bilik selatan terdapat arca Agastya sebagai Siwa Mahaguru, sedangkan pada bilik barat terdapat arca Ganesha dan bilik utara terdapat arca Durga Mahisasuramardhini (oleh masyarakat disebut arca Roro Jonggrang).
Di kanan kiri pintu masuk utama terdapat arca Nandiswara dan arca Mahakala, yang berfungsi sebagai dewa penjaga pintu masuk. Pada pagar langkan bagian dalam dipahatkan relief cerita Ramayana. Relief cerita tersebut diawali dengan adegan pertemuan para dewa dan diakhiri dengan adegan Sang Rama menyeberangi lautan menuju ke Kerajaan Alengka untuk mengambil Dewi Shinta. Cerita Ramayana ini dilanjutkan pada pagar langkan Candi Brahma.
Candi Brahma mempunyai bentuk dan denah mirip dengan Candi Siwa, hanya ukurannya lebih kecil, yaitu 20 x 20 meter dengan tinggi 33 meter. Candi ini hanya mempunyai satu tangga masuk di sebelah timur, dengan satu bilik yang diisi dengan arca Brahma di dalamnya. Pada pagar langkan bagian dalam dipahatkan relief Ramayana yang merupakan kelanjutan cerita di Candi Siwa. Dimulai dengan adegan cerita Rama, Laksmana, Wismamitra dan Sugriwa berunding untuk mengatur siasat perang di negeri Alengka dan diakhiri dengan adegan penobatan Kusa dan Lawa sebagai Pangeran Pati.
Adapun Candi Wisnu mempunyai bentuk dan tinggi yang sama dengan Candi Brahma, yaitu berdenah 20 x 20 meter dan tinggi 33 meter. Candi ini mempunyai satu tangga masuk di sebelah timur dengan satu bilik, dan terdapat arca Wisnu di dalamnya. Kaki Candi Wisnu dikelilingi oleh selasar dengan pagar langkan dan pada bagian dalamnya terdapat pahatan relief cerita Krsnayana (menggambarkan adegan-adegan yang berhubungan dengan kehidupan dan keagungan Dewa Wisnu). Bentuk penjelmaan Dewa Wisnu pada relief Candi Wisnu diwujudkan sebagai tokoh pahlawan yang bernama Kresna.
Dengan demikian, kompleks Candi Prambanan dibangun dalam suatu kesatuan konsep, yaitu Candi Siwa sebagai sentral pemujaan arca Siwa Mahadewa sebagai arca utamanya. Hal ini sesuai dengan pemberitaan dalam prasasti Ciwagrha tahun 856 M yang dikeluarkan oleh Rakai Pikatan.
Prasati Ciwagrha tidak diketahui asalnya, kini disimpan di Museum Nasional Jakarta. Prasasti ini mulai menarik perhatian setelah J.G. de casparis berhasil menguraikan dan membahasnya. Menurut Casparis ada 3 hal penting dalam prasati tersebut, yaitu: (1) bahasanya merupakan contoh tertua prasasti yang berabgka tahun yang ditulis dalam puisi Jawa kuna; (2) isinya memuat bahan-bahan atau peristiwa-peristiwa sejarah yang sangat penting dari pertengahan abas ke IX M; (3) didalamnya terdapat uraian yang rinci tentang suatu “gugusan candi”, sesuatu yang unik dalam epigrafi Jawa kuna.
Dari uraian tersebut diatas yang menarik adalah peristiwa sejarah dan uraian tentang pembangunan gugusan candi. Peristiwa sejarah yang dimaksud adalah peperangan antara balaputeradewa dari keluarga Sailendra melawan rakai pikatan dari keluarga sanjaya. Balaputeradewa kalah dan melarikan diri ke Sumatera. Konsolidasi keluarga raja Rakai Pikatan itu kemudian menjadi permulaan dari masa baru yang perlu diresmikan dengan pembangunan suatu gugusan candi besar.
Gambaran tentang gugusan candi seperti yang disebut dalam prasasti Ciwagrha dapat dibandingkan dengan kompleks candi Prambanan, memang gugusan candi yang dibangun pusatnya dipagari tembok keliling dan dikitari oleh deretan cnadi perwara yang disusun bersap hanya Candi Prambanan. Demikian pula disebutkan semua candi perwara sama dalam bentuk dan ukuran. Hal lain yang menarik juga adalah 2 buah candi apit, masing-masing didekat pintu masuk utara dan selatan. Keterangan mengenai gugusan candi yang terletak didekat sungai mengingatkan pada gugusan candi Prambanan dengan sungai Opak di sebelah baratnya dan jika dari jarak antara sungai Opak dan gugusan candi Prambanan dan adanya pembelokan aliran sungai kemungkinan pembelokan tersebut terjadi diantara desa Kelurak dan Bogem. Dengan demikian, tampaknya uraian yang terdapat dalam prasasti Ciwagrha tentang gugusan candi tersebut lebih cocok dengan keadaan candi Prambanan.
Sifat keagamaan candi Prambanan yang Hinduistis itu antara lain dapat diketahui dari susunan pantheon atau arca-arca dan juga relief-relief cerita yang dipahatkannya. Empat dari 6 candi utama dan perwara yang ada dihalaman pertama di dalam bilik-biliknya terdapat arca. Candi Siwa memiliki 4 bilik, yaitu bilik utama menghadap ke timur berisi arca Siwa Mahadewa yang berdiri diatas yoni yang disangga oleh seekornaga. Arca Siwa Mahadewa ini adalah sentral dari pemujaan di Candi Prambanan. Bilik yang kedua di bagian selatan berisi arca Siwa Mahaguru; bilik ketiga disisi barat berisi arca Ganeca (anak Dewa Siwa) yang digambarkan bekepala gajah berbadan manusia. Bilik keempat disisi utara berisi arca durga Mahisasuramardhini yaitu arca Durga (cakti/istri Siwa) yang berhasil mengalahkan raksasa yang berwujud mahisa (lembu jantan). Arca tersebut digambarkan berdiri di atas punggung lembu jantan sambil tangannya menarik ekor lembu. Arca inilah yang dalam cerita rakyat dikenal sebagai arca Rarajonggrang, putri Prabhu Boko9. Tata letak arca-arca tersebut tidak lazim pada candi-candi India. Ada beberapa ahli berpendapat bahwa tata dewa-dewa di Candi Siwatersebut melambangkan struktur pemerintahan waktu itu. Dewa Siwa sebagai dewa utama menggambarkan raja yang berkuasa. Dewa Siwa Mahaguru melambangkan kaum pendeta yang menjadi penasihat spiritual raja. Dewa Ganeca sebagai dewa perang melambangkan kekuatan pertahanan, sedang Dewa Durga Mahisasuramardhini menggambarkan permaisuri raja yang senantiasa mendampingi raja. Di candi Wisnu hanya terdapat satu bilikdan berisi arca Dewa Wisnu, sedangkan bilik Candi Brahma berisi arca Dewa Brahma. Ketiga candi utama tersebut menghadap ke timur dan tiga candi didepannya (candi perwara) menghadap ke barat. Candi perwara yang ditengah (menghadap Candi Siwa), terdapat arca nandi, yaitu wahana (= kendaraan Dewa Siwa) sehingga lazim juga disebut candi Nandi. Adapun candi perwara lainnya karena tidak dijumpai arca di dalamnya, maka disebut Candi A dan B.
Seni hias yang sangat menarik di kompleks Candi Prambanan ini adalah hiasan-hiasan yang berupa relief arca dewa Lokapala (8 dewa penjaga arah mata angin) yang dipahatkan pada dinding luar kaki Candi. Disamping itu, juga terdapat relief cerita Ramayanadan Kresnayana. Relief Ramayana dipahatkan pada dinding dalam pagar langkan Candi Siwa di candi Brahma. Relief Kresnayana dipahatkan pada dinding dalam pagar langkan Candi Wisnu. Selain relief arca Dewa Lokapala, relief Ramayana, dan Kresnayana, seni hias di kompleks Candi Prambanan yang menonjol adalah hiasan yang lazim disebut motif prambanan, yaitu suatu hiasan pada batur candi yang berupa seekor singa yang dalam posisi duduk diapit oleh pohon kapaltaru (= pohon hayati/pohon kehidupan). Hiasan semacam ini hanya terdapat di candi Prambanan sehingga disebut dengan motif candi prambanan. Hiasan-hiasan lainnya yang banyak menghiasi dinding luar batur candi adalah pohon kalpataru yang diapit sepasang mahluk kayangan yang lazim disebut kinara-kinari (= mahluk berkepala manusia berbadan burung).
Secara garis besar data fisik tentang kompleks Candi Prambanan dapat diuraikan sebagai berikut : pada halaman pertama (paling sakral) terdapat 3 candi utama, 3 candi perwara, 2 candi apit, 4 candi kelir, dan 4 candi sudut/patok. Kesemua candi dihalaman utama tersebut telah berhasil direkonstruksi lagi sedangkan dari 224 candi perwara di halaman kedua, hanya beberapa candi perwara yang telah berhasil direkonstruksi. Saat ini baru dilakukan usaha-usaha untuk mencoba merekonstruksi beberapa candi perwara lainnya. Adapun ukuran masing-masing candi yang berhasil diketahui adalah : candi Siwa luasnya 34 x 34 meter ; tinggi 47 meter. Candi Brahma 20 x 20 meter ; tinggi 33 meter. Candi Wisnu 20 x 20 meter ; tinggi 33 meter. Candi Nandi 16,71 x 15,21 meter ; tinggi 27,06 meter. Candi A 14,37 x 14,37 meter ; tinggi 24,53 meter. Candi B 14,41 x 14,37 meter ; tinggi 24,36 meter.
Candi yang paling besar adalah candi Siwa yang mempunyai ketinggian 47 m, sedang yang lainnya adalah candi Brahma dan candi Wisnu yang letaknya di sebelah kanan dan kiri candi Siwa.
Di sekitar candi Prambanan dapat dikunjungi pula beberapa candi Budha seperti candi Sajiwan, candi Lumbung, candi Sewu dan candi Plaosan. (sumber:heritageofjava.com)





0 komentar