Selamat Datang......

di www.geografi.web.id
website geografi ,
edukasi & informasi...

YM01:
Status YM YM02: Status YM
email: geografiesta@gmail.com

Anda Pengunjung ke
Counter Powered by  RedCounter
Saat ini Pengunjung Online





Thx to: Jurusan Pendidikan Geografi
Fakultas Ilmu Sosial Ekonomi
Universitas Negeri Yogyakarta
FISE - UNY .. copyright 2010

HUJAN (2a)

Diposting oleh admin Rabu, Februari 03, 2010

*)HIDROLOGI - HUJAN 1/2



HUJAN
Apabila awan yang terbentuk di angkasa terus naik  butir-butir halus berubah menjadi butir-butir air yang besar-besar dan akhirnya jatuh ke bumi sebagai air hujan
Jadi hujan dapat didefinisikan  peristiwa jatuhnya butir-butir air dari langit ke permukaan bumi
Hujan juga dapat diartikan  presipitasi yang berbentuk cair (presipitasi: semua bentuk hasil konsumsi uap air yang terkandung di atmosfer)
Hujan  salah satu gejala cuaca yang memiliki peranan penting bagi kehidupan di bumi (hujan sebagai sumber air tawar)

CURAH HUJAN

Jumlah curah hujan yang diterima oleh suatu daerah disamping tergantung sirkulasi uap air, juga tergantung dari faktor-faktor:
Letak garis lintang
Ketinggian tempat
Jarak dari sumber-sumber air
Posisi daerah terhadap benua/daratan
Arah angin terhadap sumber-sumber air  menuju atau menjauhi
Posisi daerah terhadap gunung
Suhu relatif daratan dan lautan


Untuk berbagai tujuan, ada 4 karakteristik presipitasi yang dipelajari ahli hidrologi, yaitu:
1. Intensitas: jumlah hujan yang jatuh dalam waktu tertentu (mm/menit, cm/jam, dan lain-lain)
2. Lama hujan/durasi: periode waktu selama hujan berlangsung (menit, jam, dan lain-lain)
3. Frekuensi: harapan hujan akan jatuh dalam waktu tertentu
4. Luas areal: penyebaran hujan menurut ruang


DATA CURAH HUJAN
Curah hujan di Indonesia  berkisar antara 2.000-3.000 mm/tahun
Untuk mendapatkan hasil yang akurat  data lapangan harus diperiksa dan diteliti kebenarannya terlebih dahulu sebelum digunakan untuk keperluan penyelesaian masalah-masalah hidrologis
Pemeriksaan  dapat ditanyakan langsung kepada petugas pencatat


Cara Penghitungan Curah Hujan Daerah dari Pengamatan Curah Hujan di Beberapa Titik:

Cara Rerata Aljabar
 cara paling mudah, akan tetapi mempunyai ketelitian paling rendah
 pada umumnya hanya digunakan untuk daerah dengan variasi hujan rerata kecil
 sesuai untuk kawasan datar/rata dan DAS dengan jumlah penakar hujan besar yang didistribusikan secara merata pada lokasi-lokasi yang mewakili

Yaitu dengan menghitung rata-rata aritmetik (hitung) dari semua total penakar hujan di suatu kawasan/daerah

R = 1/n (R1+R2+R3+...Rn)
Keterangan:
R = curah hujan daerah (mm)
n = jumlah titik-titik pengamatan
R1+R2+R3+...Rn = curah hujan di tiap titik pengamatan (mm)


Cara Poligon Thiessen
 dipandang lebih baik dari cara rerata aljabar karena telah memasukkan faktor daerah pengaruh stasiun hujan, meskipun faktor topografi tidak tercakup di dalamnya
 sesuai untuk kawasan dengan jarak penakar hujan yang tidak merata; sehingga memerlukan stasiun-stasiun pengamat di dan dekat kawasan tersebut
 pemindahan atau penambahan stasiun pengamat akan mengubah seluruh jaringan

Yaitu dengan menggambar bisektor tegak lurus melalui garis-garis lurus yang menghubungkan penakar-penakar hujan di dekatnya, dengan meninggalkan masing-masing penakar di tengah-tengah suatu poligon
Rata-rata hujan didapat dengan membagi jumlah hasil kali luas poligon dan hujan (dari penakar di poligon) dengan luas total (luas daerah penelitian)

R = A1R1+A2R2+A3R3+...AnRn /dibagi A1+A2+A3+...An
= A1R1+A2R2+A3R3+...AnRn /dibagi A
= W1R1+W2R2+W3R3+...WnRn

Keterangan:
R = curah hujan daerah (mm)
R1,R2,R3,...Rn = curah hujan di tiap titik pengamatan (mm)
A1,A2,A3,...An = luas wilayah yang dibatasi poligon
A = luas daerah penelitian
W1,W2,W3,...Wn = A1/A,A2/A,A3/A,...An/Wn


Cara Garis Isohiet
 merupakan metode paling teliti karena telah memasukkan faktor topografi, akan tetapi subyektivitas yang menyertai hasil analisis cukup tinggi, apalagi di dalam interpolasi ruangnya akan menghasilkan kesalahan yang cukup tinggi
 sesuai untuk kawasan-kawasan bergunung
 membutuhkan stasiun-stasiun pengamat di dan dekat kawasan tersebut
 sangat bermanfaat untuk penghitungan curah hujan yang singkat

Yaitu dengan menggambar garis yang menghubungkan jeluk/kedalaman hujan yang sama pada suatu kawasan/daerah
Rata-rata hujan ditentukan dengan menjumlahkan hasil kali luas isohiet dan hujan, dan dibagi dengan luas total.
R = A1R1+A2R2+A3R3+...AnRn /dibagi A1+A2+A3+...An
Keterangan:
R = curah hujan daerah (mm)
A1,A2,A3,...An = luas bagian antar dua garis isohiet
R1,R2,R3,...Rn = curah hujan rata-rata pada bagian
A1,A2,A3,...An




Related Post



1 Responses to HUJAN (2a)

  1. Unknown Says:
  2. Tanya : apakah jumlah hari hujan juga boleh dirata-rata?
    terima kasih

    eko bp